chapter 1
merenung
awan hitam masi belum selesai menjatuhkan butir2 air kehidupannya, hawa dingin bertiup dari ujung jalan kos2an becek, bergelombang dan remang2 terlihat 1 rumah yang kontras yang ada di deretan gedung2 kos berlantai 3 dari rumah itu, yang konon juga kos. terlihat sosok seseorang duduk di teras. ia diam membisu. depan lantai dua. ia duduk termenung menyandarkan dagunya di bibir tembok teras. lampu di teras mati sejak sore, kelam menggambarkan perasaan sosok diam itu. memandangi air yang jatuh vertikal bermil2 jauhnya dari angkasa, serasa ingatan kembali ke masa lalu saat ia nonton film Matrix dengan code2 yang jatuh dengan karakter yang tidak jelas. terlintas ia memandangi pantulan air pada genangan air di bawah. sungguh lucu ia pikir apa yang ia lakukan disana dan apa yang dipikirkan?? dalam kepalanya, otaknya berteriak2 keras dengan mencontek suara chester 'linkin park' .. "..don't turn ur back on me and i won't be ignored!". seiring otaknya memainkan permainan musik dan berteriak2, lalu ia mengangkat kepalanya dan mulutnya komat kamit menyanyikan lagu itu tanpa mengeluarkan suara, sambil kepala di angguk2an mengikuti beat yang ada pada lagu itu didalam kepalanya.
tiba2 terlihat seseorang setengah baya berbaju hijau norak berjalan disisi pinggiran jalan yang becek, bergelombang dan remang2 itu. hansip pikirnya. kehadiran hansip itu membuat ia kembali diam tanpa bergerak dan menyendekan dagunya di bibir tembok teras. sambil membawa tongkat orang itu lalu mendekat ke tiang2 yang berdiri teguh di depan rumah kos tersebut. di ayun kan tongkat itu dan di pantulkan gelombang suara dari pukulan tongkat tersebut di tiang tersebut. 1....2..3.....4.. kali ia memukulnya. ah ternyata sudah jam 1 malam...
pikirnya. tiba2 angin bertiup kencang. ah segar pikirnya. ia tetap diam tanpa bergerak dan bersuara mengikuti alunan heningnya malam. apa yang dipikirkan dia?? apa dia patah hati?? tidak.. ia hanya bingung. dalam keadaan itu keheningan dapat membantunya untuk dapat berpikir sehat tanpa gangguan penyakit2. penyakit itu adalah suasana rutinitas yang terjadi di dalam kosnya, khususnya di dalam kamarnya. gaduh beat2 yang beraturan frekuensi rendah pada speaker komputernya, lampu remang2, abu rokok dengan bangkai2 rokok yang berserakan di asbak dan sekitarnya, dan dengan adukan adonan beat2 lain di luar kamarnya, rasa sepi tetap tetap ia rasakan.. kenapa sih kesepian?? tanya temannya saat bercurhat ria. gw cuman butuh partner lawan jenis yang bisa saling tukar pikiran dan tukar rasa. haha lu bego.. mendingan kita kerjain vector aja yok.. balas temannya. duh ga bisa coy.. lu ga ngerasa ada yang kurang dalam hidup lu?? bayangin 1 taon lebih gw sendiri euy.. jawabnya dan jawaban itu mengakhiri flashback beberapa jam yang lalu di kamarnya. aah terlalu lama pikirinya. kembali perasaannya dibalut dengan rasa cueknya. ah fugg! EGP ahhh.. nanti jg dateng sendiri.. bisik hatinya. lalu ia berdiri berpikir untuk meninggalkan kursi dan hansip tadi yang sudah berlalu dan berteduh di ujung. ia geser kursi itu kebelakan dan tangan kanannya mengambil 1 kotak rokok yang ada di sakunya. di jepitnya rokok pada bibirnya dan mulai untuk menyalakan api pada ujung rokok. lalu ia berlalu berjalan meninggalkan teras dan terdengar langkah turun dari kejauhan..
[to be continue.. ]